Blognya si Ambu

Monday, June 19, 2006

Tiga sekaligus

Pembunuhan.
Tiga sekaligus. Pada saat yang berbeda, menunjukkan memang ini direncanakan.

Memang mengerikan, tapi ini nyata. Semua fakta ini CMIIW, didapat dari koran Pikiran Rakyat.

Seorang ibu, namanya AKS. Dia punya latar belakang meyakinkan, ibu seorang dokter, ayah menguasai tujuh bahasa asing, di sana di Boyolali. AKS sendiri kuliah di ITB, konon asalnya Planologi, lalu pindah ke Arsitektur. Menikah dengan alumni ITB juga, Fisika. Punya anak tiga, Faras (6 th), Nazhif (3), Umar (7 bl).

Suaminya tidak mengijinkan dia bekerja. Maka dia menjadi ibu rumahtangga saja. Suaminya sendiri menjadi pengurus masjid, sekaligus pembimbing haji di bimbingan haji di masjid Salman. Melihat anaknya sekolah di TK Zakaria sementara suaminya kerja tak tentu begitu, apakah mungkin ada bantuan keuangan dari ayah-ibunya di Boyolali?

Kamis 8 Juni 2006 pukul 07.30 AKS melepas suaminya bekerja. Pukul 9 pembantunya datang. Kaya’nya pembantu pulang hari ya?

Pukul 10.00 AKS membekap anaknya Umar di kamar depan. Sempat menangis dan pembantunya mendengar, dan agak curiga.

Pukul 13.30 anaknya yang kedua dibekap. Di kamar belakang, dan lalu mayat anak bungsu di kamar depan dipindahkan ke kamar belakang. Disatukan.

Pukul 17.00 anak pertama datang. Ia makan, mengaji, lelah dan tertidur di kamar depan.

Malam hari ia menelepon agar suaminya tidak usah pulang.

Subuh (Jumat 9 Juni) jam 05.00 ia membekap anak pertamanya.

Pukul 07.00 mobil jemputan datang, ia memberitahu bahwa Faras sakit, tidak bisa sekolah. Pukul 09.30 temannya menelepon, menanyakan Faras kok tidak sekolah. Dijawabnya, sakit.

Siang, pukul 11.00 suaminya pulang dan mendapati ketiga anaknya di kamar sudah meninggal.

Dari pertanyaan-pertanyaan polisi kemudian, AKS mengaku telah membunuh ketiganya. Ia mengaku, takut akan masa depan ketiga anaknya. Ia takut tidak bisa membahagiakan mereka. Ia sayang pada ketiganya.

Masya Allah.

Ambu sering membaca di koran, melihat di televisi, orangtua yang bekerja keras membanting tulang, disertai oleh kerja keras juga oleh anak-anaknya, dan berhasil menyekolahkan anak yang banyak, ada yang tujuh, sembilan, bahkan dulu pernah baca seorang janda dengan tigabelas anak, dan semuanya sukses. Tidak semua jadi sarjana memang, tetapi semuanya sukses.

Rejeki memang tidak kita ketahui datangnya. Tetapi rejeki itu harus kita cari. Dan Allah tidak akan membiarkan ummatnya begitu saja.

Masya Allah…

Silakan lihat di Pikiran Rakyat terbitan-terbitan mulai Sabtu 10 Juni hingga beberapa hari kemudian. Trenyuh juga baca Kolom ...

3 Comments:

  • -speechless-

    By Blogger syafrina-siregar, at 12:20 PM  

  • Mungkin ada suatu fakta yg kita belum ketahui. Fenomena ini terlalu aneh dan mbikin kita ndak habis pikir.

    atau setidaknya, apa ya kira2 pembelajaran yg bisa kita petik darinya?

    By Anonymous Anonymous, at 2:28 PM  

  • Iya, mas Guntar. Pasti ada sesuatu yang tidak kita ketahui. Yang ada di koran kan hanya permukaan saja..

    By Blogger ambudaff, at 2:44 PM  

Post a Comment

<< Home