Blognya si Ambu

Friday, May 27, 2005

Meminta sesuatu

Dalam ibadah haji atau umrah, dikenal istilah ‘thawaf’. Mengelilingi Kabah. Minggu lalu mertuaku kembali dari ibadah umrah. Banyak ceritanya, seperti biasa, Mekkah dan Madinah selalu penuh dengan keajaiban.

Tapi ada satu yang bikin aku termenung. Ada seseorang yang mengerjakan thawaf sebanyak 100 keliling dalam satu kali niat. Dan setelah itu dia bisa memohon apa saja kepadaNya. Biasanya yang seperti ini dikabulkanNya. Maka, banyak orang yang mengerjakan thawaf 100 keliling ini (biasanya 7 keliling juga sudah cukup). Nah orang itu malah sampai 2 kali thawaf (jadi 2 x 100 keliling) dan itu dikerjakan dalam dua kali niat, dari habis shalat malam (sekitar jam 12 malam) sampai menjelang shalat subuh.

Ibu mertuaku sampai geleng-geleng kepala. Ada gitu orang yang bener-bener tekun sepert itu. Tetapi memang katanya banyak yang begitu. Biasanya mereka yang ingin anak, atau ingin suatu pangkat/jabatan.

Aku jadi inget. Ada tempat di Masjidil Haram yang makbul seperti itu untuk berdoa. Juga di Rhaudah (bener nggak tulisannya) di Masjid di Medinah. Lalu pas adiknya nenekku mendapat kesempatan untuk menunaikan Haji, ia berdoa di sana. Ia berdoa agar anaknya dimudahkan urusan perceraiannya.

Anaknya memang sedang mengalami kasus dengan suaminya. Dan sebagai orang tua, sebut saja namanya X, cenderung mendengarkan dari pihak anaknya. Kebenaran akhirnya datang juga, mereka memang bercerai dengan mudah sesuai apa yang diminta X di Mekkah. Tetapi, ternyata terungkap, anak si X itu-lah justru pokok permasalahan. Anak si X itu membeberkan bahwa dia dipukul oleh suaminya, ternyata karena anak X itu berselingkuh, menggunakan uang kantor untuk membiayai selingkuhannya, dan entah apalagi masalahnya. Bekas suaminya itu sekarang sudah menikah lagi, sudah punya anak, dan hubungannya dengan anak-anaknya baik-baik saja (anak-anak dirawat sama neneknya, ya si X ini). Hubungan dengan keluarga kami juga baik-baik, kalau lebaran dia datang ke rumah.

Sedang anak si X ini justru ancur-ancuran, udah selingkuhannya nggak mau ceraiin istrinya (dia selingkuh sama orang yang menikah), si selingkuhannya morotin terus (menurut suatu sumber, anak dari selingkuhannya itu pernah masuk rumahsakit, dan kaya’nya anak si X ini yang ngebiayain..), dipecat dari kantor, entah kerja di mana sekarang, nggak mau gaul sama kerabat lagi, pergi dari rumah pagipagi pulang malem-malem .. dll. X sampai kurus mikirin anaknya, kenapa jadi seperti itu?

Itu bikin aku mikir. Kita memang tidak tahu apa yang sedang terjadi. Allah- lah yang Maha Tahu. Allah Yang Maha Kuasa. Makanya, kalau mau minta apa-apa, aku selalu minta: agar diberi yang terbaik untuk hidupku, untuk keluargaku, untuk agamaku. Jadi jangan mendikte: aku pengen ini-ini-ini. Siapa tahu itu bukan yang terbaik buat kita. Padahal Allah itu Maha Memberi. Bagaimana kalau kita diberi apa yang kita minta padahal itu justru mendatangkan malapetaka?

Makanya aku suka agak sinis sama orang yang cerita dia minta ini-ini-ini, bagaimana dia tahu kalau dia itu yang terbaik untuknya? Pangkat diberi, tetapi kesehatan tidak? Rezeki yang banyak diberi, tetapi dia malah jadi lupa pada Allah? Lebih baik minta yang umum, agar diberi kesehatan, agar diberi khusnul khatimah jika memang akan diberi umur pendek, dan umur yang barokah jika diberi umur panjang, dan mudah-mudahan semua ujian dan cobaan itu berguna buat kita. Amin. Kaya’nya kalau buat aku, doa seperti itu akan lebih berguna, karena aku nggak tahu apa yang akan terjadi nanti, dan apa yang terbaik untukku…

0 Comments:

Post a Comment

<< Home