Blognya si Ambu

Monday, October 28, 2013

Prodigy




PRODIGY (Legend #2)
Marie Lu
Penerjemah: Lelita Primadani
Penerbit Mizan
2013, 461 hlm

 Entah kenapa, suka susah untuk membaca buku berjenis dystopia seperti ini. Padahal sudah dimulai membuka bukunya dari 21 Oktober 2013, tapi sampai tanggal 27 baru bab-nya June yang pertama yang bisa diselesaikan. Padahal, kalau bener bacanya, seperti kemaren, dalam 2-3 jam pasti sudah selesai.
Mungkin karena jenis dystopia-nya kah? Sepertinya kalau baca buku jenis itu, sedih dan susah melulu kerjaannya...
Tapi, setelah diniatkan—ngapain dari dulu nanya-nanya kapan terbitnya, setelah ada malah dianggurin—maka mulailah dibaca. Dari awal lagi.
Setelah proses membantu Day melarikan diri dari eksekusinya di Legend, June ikut Day menuju Las Vegas. Menuju markas Patriot.
Langkah pertama yang dilakukan di sana adalah mengoperasi kaki Day yang terluka. Lalu, ternyata Patriot sudah merencanakan sesuatu untuk Day dan June: terpisah. June kembali ke Republik dan mendekati Elector Baru, Anden—Elector lama sudah meninggal. Sementara Day melaksanakan rencana lainnya.
Ada beberapa hal yang ‘agak’ mengejutkan waktu Ambu baca. Er, mungkin nggak gitu mengejutkan sih.
Pertama, saat Day baru mengetahui peta dunia, bahwa dunia itu luas, bahwa negara-negara yang mengitari Amerika itu banyak dan banyak pula yang lebih kaya dan maju dari Amerika, bahwa dunia ini tidak hanya Amerika. Sebetulnya, ini sekarang juga sudah terjadi, banyak sekali penduduk Amerika Serikat yang tidak tahu bahwa negaranya itu bukan seluruh dunia, bahwa negara-negara lain juga banyak dan beragam. Didukung juga oleh hal-hal semacam ini: http://www.buzzfeed.com/ellievhall/19insert-word-here-differences-between-time-magazine-us-and XD
Kedua, Metias ternyata—ah, sudahlah! Baca sendiri ya! Nanti jadi spoiler, hihi.
Lalu, saat bertemu dengan Razor. Kenapa ada rasa enggak enak ya? Ternyata—oh, ternyata!
Terus juga, Koloni itu ternyata begitu ya? Gemerlapan memang. Tapi—
Ada satu lagi yang terperhatikan, entah memang begitu entah cuma perasaan Ambu saja. Terasa ada alur yang sama dengan Hunger Games. Baca Razor berasa baca Coin. Lalu Pascao ngoprek-ngoprek kabel-kabel penyiaran, di Hunger Games juga. Berasa deja vu jadinya...
Sebetulnya jalinan plotnya keren, tapitapitapi, kenapa akhirnya begitu? Seorang teman nanyain, Ambu mewek nggak pas akhirnya? Agak shock sih, tapi nggak sampai nangis, malah beberapa menit kemudian bertanya-tanya: kenapa begitu sinetronish? Setelah itu baca sebuah review di Goodreads dan klik bagian-bagian yang di-spoiler, ternyata sama perasaannya: kenapa mesti sinetronish begitu? Hihi.
Champion dijadwalkan terbit awal November ini. Jadi deg-degan. Di forum diskusi di Goodreads banyak yang nanya, #timJuneAnden atau #timJuneDay? Sepertinya mending #timJuneAnden aja deh, biarin Day-nya *piiiiip* #dikeplakMarie
Lalu ada kabar kalau penerjemah seri ini udah mau KKN. Jangan duluuuuuuu! Terjemahin Champion dulu, baru pergi KKN! Kalau sampai dikasih ke orang lain, beda gayanya nanti...
Oya, nanti supplemennya ‘Life Before Legend: Story of Criminal and the Prodigy’ diterjemahin nggak ya? Dan ambu punya cita-cita, nanti kalau sudah lengkap, bikin box-nya ah, pakai gambar cover yang asli, hihi!


2 Comments:

  • Saya meweknya bukan karena Day *piiip*, melainkan karena emosi dia dan June waktu di chapter terakhir itu. Emang nyebelin sih, bisa-bisanya mewek gegara kisah cinta--itu nggak saya banget--tapi tetep aja... rasanya hati ini ikut sediiih banget. :'( Mungkin karena ikatan emosi saya dengan cerita ini sudah terlalu dalam ya, sampe bisa-bisanya ikut broken gegara perpisahan mereka. #sob

    Elector lama (bapaknya Anden) sengaja mencuci otak penduduknya biar nggak pada tahu bahwa dunia di luar sana itu luas. :D

    Tema rebellion selalu umum di novel-novel distopia, jadi wajar aja ada perasaan deja-vu (saya sih enggak, soalnya baca Mockingjay setelah Prodigy. XD) Tapi yang saya suka, di Prodigy ini memberontaknya dari dalam sistem, jadi konflik politiknya lebih kerasa. :D

    Tenang aja Ambu-san, kata si penerjemahnya, dia udah ngelobi editornya, dan katanya insyaaLLah tetep akan diorder. Kemungkinan sih, setelah KKN. ;)

    Saya juga pengiiiin banget Life Before Legend diterjemahin, tapi kalo side story-nya cuma satu begitu kayaknya susah deh. >___> Beda sama trilogi Delirium yang side story-nya banyak, kan jadi bisa disatuin di satu buku....
    :(

    By Blogger fadshaka sanichiyonni, at 5:52 PM  

  • Saya: menghabiskan hampir keseluruhan buku dengan berada di sisi Anden, lalu mulai halaman 400-an ke atas mulai goyah ke Day. Bukan karena sinetronnya, tapi karena pertengkarannya dengan June! --------jedotjedot---

    By Blogger jilansy, at 11:05 PM  

Post a Comment

<< Home