Blognya si Ambu

Friday, September 27, 2013

reasons


reasons: untuk sebuah impian
Aditia Yudis
Nourabooks
Juli 2013
332 hlm


Padahal selama ini bagi Adeline hanya tiga pria yang bisa disebut tampan di dunia ini, yaitu George Clooney, Chris Pine, dan Benedict Cumberbatch


 

Ambu jarang baca teenlit. Tapi kali ini berbeda. Soalnya ada Kirk, dan ada George Clooney. Hihi.

reasons bercerita tentang dua siswi SMA, Amber dan Adeline. Keduanya datang dari dunia yang berbeda. Amber anak orang kaya, segala yang diinginkannya dipenuhi, sementara Adeline sudah tak punya ayah lagi, bekerja sampingan untuk mengumpulkan uang untuk melanjutkan sekolah. Ibu Adeline menginginkan agar anaknya tak usah kuliah, lulus UN bantu-bantu usaha di Cilegon saja...

Amber dan Adeline ‘berpapasan’ saat mereka mengikuti Lomba Karya Ilmiah. Pemenangnya bisa masuk UI tanpa test. Keduanya mengikuti Lomba, dan seperti sudah bisa diduga, Adeline yang menang. Amber ngamuk-ngamuk, kemudian mencoba meneror Adeline via segala cara.

 Keadaan lebih diperumit lagi dengan jalinan peristiwa yang mempertemukan Adeline dengan Abimantra—kakak Amber—dan Amber dengan Sigit—Adeline bertemu dengannya di taman bacaan tempat kerjanya. Belum lagi, orangtua Amber yang ambisius, memaksakan kehendak pada kedua anaknya: harus masuk jurusan anu.

 Ambu biasanya juga nggak gitu ngikutin teenlit. Tapi di sini StarTrek dan Hobbit bertebaran di mana-mana. Sampai kucingnya juga Kili dan Fili. Hihi. Jadi sebenernya bukan baca, tapi fangirling #pengakuan hihi

 Belum lagi kondisi Adeline, yang kebayangnya Kirk. Kirk dari Alternate Reality ya. Yang udah nggak punya ayah. Dan, walau tak terceritakan, tapi dari banyak fanfiksi yang ambu baca untuk Winona—ibu Kirk di 2009—Winona di sini diceritakan apatis. Persis ibunya Adeline kan ya? Ya? #maksa

Ada beberapa ilustrasi di sini. Setelah chapter picture yang melukiskan kondisi meja, di akhir ada Adeline dan Sigiiiit! Er, ini spoiler nggak ya? Hihi. Cuma yang kebayang tadinya, Sigit itu persis seperti Nara Shikamaru... XP Dan sampul depannya kiyut, yang kebayangnya dua cewek di sampul depan itu menapak langkah mereka selanjutnya yang semakin menanjak...

Menunggu Chris Pine selanjutnya di sapaan pagi tuiter Tia #nyengir

Orang-Orang Tanah


ORANG-ORANG TANAH
Poppy D Chusfani
Sampul & Ilustrasi dalam: Anne M Oscar
Kumpulan Cerpen
Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Agustus 2013
199 hlm


Enaknya membaca kumpulan cerpen itu: kita tidak usah membaca urut, dari halaman 1 hingga habis. Kita bisa saja mulai dengan cerita nomer tiga, atau lima, dan cuma itu saja yang dibaca juga nggak apa-apa kalau kelihatannya cerpen yang lain nggak menarik. Lalu, jika memang kita membacanya sampai habis, kita bisa saja bilang hari ini: ‘cerpen favoritku nomer tujuh’ padahal kemarin kita bilang: ‘cerpen favoritku nomer lima’, dan ada kemungkinan besok-besok favorit kita beda lagi, mungkin nomer tiga atau nomer sebelas...
Walau demikian, seperti biasa, ambu memulai membaca buku ini dari halaman satu dan membacanya urut hingga habis. Sampai hari ini, cerpen favorit ambu itu: Lelaki Tua dan Tikus. Satu kekurangannya: kenapa nama mantan suaminya yang jelek itu sama dengan nama Abah? Hihi

Tapi, cerita-cerita lain juga menarik! Kebanyakan memper ke genre fantasi. Walau ada yang ditulis ‘seperti’ di saat ini, dalam setting masa kini, tetapi tetap saja akhirnya berujung fantasi.  Plus sedikit horor. Keren! Dan selalu nyaris tak bisa ditebak!

Lalu, mungkin perlu diberi peringatan di depannya, buku ini mungkin masuk rate dewasa. Tema pembalasan dendam yang diangkat oleh beberapa cerita, beberapa tokoh berprofesi sebagai PSK, setting horor dalam beberapa cerita...

Daaaaaan, kumpulan cerpen ini punya chapter picture, ilustrasi di tiap awal cerpen! Yang bikin tak lain dan tak bukan adalah Madam Anne Lumos kita! XD Seneng lihat warna sampulnya, ungu-pink gitu. Sebenernya ilustrasi-ilustrasi di dalam pasti keren kalau pakai warna, tapi, eheheh, nanti malah jadi tambah mahal ya? Hihi. Favoritku yang serigala itu! *ah si ambu mah, serigala aja di mana-mana juga favoritnya XD*

Ini gambar-gambarnya, dalam warna. Diambil dari sini

 


Rekomendasi untuk yang mencari bahan bacaan yang lain dari yang lain!

Planetes: Memburu Tongkat Silex Luminar


PLANETES: Memburu Tongkat Silex Luminar
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit Laksana, Juli 2013
198 hlm

 

...tipis.
Begitu pertamakali memegang bukunya, kesan itu yang saya dapat. Biasanya, novel-novel fantasi—apalagi keluaran lokal—berlomba-lomba menebalkan diri. Dan biasanya bikin malas bacanya. Apalagi kalau nama-nama yang ada (tokoh, lokasi, dll) sulit dibaca. Makin malas bacanya.

Tapi Planetes cuma 198 halaman. Harganya juga cuma Rp 30.000 (saya dapatnya Rp 22.500, karena belinya di Togamas pagi-pagi. Kalau ga salah, di Togamas ini ada program diskon 25% buat 50 judul buku pertama yang terjual tiap hari. Saya seringnya ke Togamas pagi, kadang begitu buka begitu masuk—kan arahnya sama dengan ke pasar, jadi ke Togamas sekalian ke pasar. Jadi selalu dapet diskon segitu #emakemakpenimbunbuku)

Oke. Kembali ke laptop.

Awalnya suudzon ya, liat nama penulisnya yang bikin keriting lidah. Pasti nama-nama di dalamnya juga sama saja, mengeritingkan lidah. Makin mengeritingkan hati. Ternyata nggak juga. Agni, itu nama yang saya suka. Setahu saya, Agni itu nama dewa di mitos Hindu, dan dia menguasai *nanya oom Gugel dulu* api. Er... mungkinkah berhubungan dengan nasibnya nanti di akhir cerita? *psst, spoiler*

Nama-nama lain juga nggak gitu susah dibaca. Jadi, mari kita mulai membaca!


Zaman dahulu, dunia dibagi menjadi tiga area: tempat tinggal makhluk nirwana yang disebut Caelum, tempat tinggal makhluk kegelapan yang disebut Atyra, dan tempat tinggal makhluk fana yang disebut Terra.

Namun, Terra harus dilipat, karena rentan terhadap serangan makhluk Atyra dari bawah dan kecerobohan makhluk Terra hingga terpeleset ke Atyra. Maka, diutuslah seorang dewi bernama Asmaer untuk melipat Terra. Sayangnya, Asmaer kehilangan tongkatnya, Silex Luminar, ketika terjatuh di Terra. Tongkat itu pun menjadi rebutan para kurcaci, goblin, islavir, dan tentu saja Agnar sang penguasa Atyra.

Begitu tertulis di sampul belakang bukunya.

Biasanya tempat makhluk kegelapan namanya menyeramkan, tapi Atyra kok kesannya menyegarkan. Mau deh, tinggal di tempat yang namanya Atyra! Asal bukan tempat tinggal makhluk kegelapan. Hihi.

Cerita dimulai dengan Agni, bocah yatim piatu yang dipelihara paman-bibinya, 13 tahun, sedang diam-diam berburu di hutan. Langsung saja saya menebak: ini tokoh utamanya. Langsung saja saya menyamakannya dengan Frodo Baggins, Harry Potter, Eragon, Torak... Bocah-bocah yang bakal jadi tokoh utama cerita!

Ternyata, eheheh. Spoiler lagi. Baca aja sendiri ah!

Jadi, suatu hari, seorang dewi bernama Asmaer turun ke Terra dengan misi: melipat Terra. Jangan dibayangkan turun dengan anggun, bayangkan saja Mr Bean turun ke bumi. Gedebuk bakbuk gedubrak, gitu. Turun—tepatnya jatuh—di atas tubuh Agni!

Karena turunnya gedubrakan gitu, tongkatnya lenyap entah ke mana. Padahal tongkat ini yang harus dipakai untuk melipat Terra. Selain itu, jika jatuh ke tangan yang salah, akibatnya fatal.

Singkat cerita, sesuai dengan spontanitas bocah-bocah di mana-mana, Agni mengajak Maer—panggilan Asmaer—lalu Eoraed, kemudian kakak sepupunya Alviss, lalu merembet ke Rosabel, bertualang mencari tongkat Silex Luminar ini.

Seorang penyihir bisa melihat, tongkat ini sekarang ada di daerah Pykare, daerah kurcaci dan goblin. Mereka sedang bertemput memperebutkannya. Bahkan juga ada islavir, penduduk Atyra!

Bertemu siren, bertemu peri, bertemu raksasa, bahkan naga, mereka bertarung menghadapi bahaya demi bahaya. Bahkan bahaya dari dalam persahabatan mereka juga ada: siapa yang bisa mengira bahwa makhluk berbahaya itu justru adalah salah satu dari mereka?

Waktu mulai membaca, ada rasa nggak enak dengan kecepatan paragraf-demi-paragraf menyusun cerita. Mungkin karena terbiasa membaca novel tebal ya? Biasanya pada novel tebal, deskripsi juga panjang-panjang. Sedangkan di Planetes, deskripsi singkat, langsung pindah ke adegan lain.

Memang jadi nggak membosankan, tapi mungkin agak terlalu cepat juga sih. Kalau saja agak diterangkan sedikit, diberi tambahan deskripsi sedikit, sekitar 50 halaman, sepertinya boleh juga.

Lalu (ini fiksi lho! Hihi) itu sebabnya masih saja ada yang mengira dunia ini rata ya? Berarti mereka ini penduduk Terra jaman belum dilipat! Sementara mereka yang mengemukakan teori bahwa dunia ini bulat, mereka adalah penduduk saat setelah Terra dilipat! Oke! *catet* #dikeplak

Cuma kasian Pluto #pelukPluto dulu dia asalnya Barat Laut yang bahkan sampai kini tidak ingin didekati siapa pun, kemudian sekarang nggak diakui planet lagi oleh manusia penduduk ex-Terra. Huhuhu, malangnya nasibmu, nak! #pelukPlutolagi

Baydewey, kenapa judulnya Planetes ya, sementara planet-planet itu cuma disinggung sedikit? Mungkin bisa ditambah beberapa halaman lagi saat proses pembentukannya, biar judul ‘Planetes’-nya jadi kerasa nyambung dengan petualangan bocah-bocah (nggak bocah banget sih) ini.

Oke, saya menutup buku ini dengan puas. Walau ada beberapa pertanyaan, paling tidak Planetes tidak membuat saya bosan dengan deskripsi yang naujubile panjangnya, dan tidak membuat lidah saya keriting mengucap nama tokoh.

Friday, September 20, 2013

Nostalgia Roti



Jadi, ceritanya tergoda untuk nyobain roti yang dibikin @doggudoggu. Apalagi setelah tahu, walau di Jakarta, bisa dikirim ke Bandung via JNE. Jadilah pesen ke akun @RotiDoggu. Bikinnya tiap Senin dan Kamis, rotinya 2 macem, gandum atau oatmeal.

Pesenlah ambu hari Kemis kemaren. Dikirim, dan diterima tadi siang. Berhubung cuaca Bandung lagi panas di siang hari dan hujan di sore hari, maka kiriman itu keterima saat lagi panas-panasnya. Bungkusannya kerasa anget, dan rotinya juga kerasa anget. Kesannya pesen roti dari Jakarta dan keterima saat masih anget, hihi.

Jadilah ambu makan siang pake roti. Sebenernya hari-hari biasa juga males makan siang pakai nasi dan masak lauknya, soalnya kalau siang hari nggak ada siapa-siapa, abah ke kantor, anak-anak sekolah. Tadi siang sih makan roti, asli rotinya aja nggak pake apa-apa.

Dan tetiba jadi inget masa lalu *ciecie* XD

Dulu jaman masih ada aki (kakek, dari ibu). Beliau--dan akhirnya menurun juga pada keluarga ibu-bapakku, menurun lagi ke keluargaku sekarang--jam 6 itu udah harus sarapan. Bukan sarapan deng, tapi makan pagi, karena nggak bisa cuma sepotong roti, harus lengkap nasi dan lauk-pauknya.

Nanti jam 10, saatnya snacking. Dan snack yang paling beliau suka itu... roti! Rotinya roti gandum, yang atasnya bulet itu. Iya, persis roti Doggu ini! Dan, sebisanya jangan dulu dipotong dari tukang jualnya. Karena beliau sukanya potongan yang tebel, ga suka potongan standar.

Kalau beli biasanya dari Sumber Hidangan. Masih anget. Trus dibungkus pakai kertas roti--itu kertas yang kasar dan berbercak-bercak itu lho! Jaman sekarang masih ada nggak ya? Penampilannya mirip kertas daur ulang gitu--apa memang kertas daur ulang ya? Di rumah baru dipotong, setebal keinginan aki. Habis itu dilapis mentega--sebisanya wysman, bukan blueband :p Menteganya juga harus tebel!

Trus isiannya apa?

Biasanya telor ceplok! Atau, kalau deket-deket sesudah lebaran (Idul Fitri atau Idul Adha): lapis legit! Sama dengan rotinya, lapis legitnya juga motong sendiri, karena kalau dipotongin nenekku atau orang lain, nanti komentarnya: ketipisan, bagai kertas, dll dll XD

Jadi, roti yang tebel, mentega yang tebel, dan lapis legit yang juga tebel. Dan itu snack, soalnya nanti jam 12, atau biasanya habis sholat dhuhur, beliau pasti udah celingukan lagi di meja makan XD

...dan snack ini ternyata nurun sama almarhum bapak. Walau rotinya nggak harus dari Sumber Hidangan, tapi roti isi ceplok atau lapis legit itu kesukaannya juga! Dan waktunya juga sama, jam 6 makan pagi, snacking jam 10, abis sholat dhuhur makan siang. Like father-in-law like son-in-law, hihi.

Mudah-mudahan nggak nurun ke Abah. Soalnya sepertinya abah nggak suka snacking. Kalau makan itu biasanya langsung makan berat XDD

Tuesday, September 10, 2013

Baka dalam Kenangan


 
Dapur di rumah ambu itu letaknya di luar bangunan utama, di belakang. Jadi, kalau subuh-subuh ambu bangun dan pergi ke dapur itu, berarti harus buka kunci pintu rumah dulu.
Biasanya si Baka udah nungguin dengan wajah memelas, lapar. Nggak sabar, langsung menerobos pintu, langsung menuju kulkas. Dia tahu kalau ikan pindang tongkol-nya disimpen di kulkas.

Atau, kalau dia abis berkelana ke mana-mana, dia justru nunggunya di pintu depan. Berarti agak telat, karena kalau pintu belakang dibuka sekitar jam 4, pintu depan paling dibuka jam 5 atau bahkan jam 6 pas anak-anak mau keluar pergi ke sekolah.

Hari itu, 28 Agustus 2013, dia nggak ada di pintu belakang. Pas ambu buka, nggak ada yang ngeong-ngeong (kalau dia ada di atas rumah, di atas genteng, dia akan mengeong-ngeong yang keras: ‘tunggu aku, tunggu aku’ dan dia bergegas turun dari genteng via pohon cemara. Iya beneran, dia sekarang ahli naik juga ahli turun pohon, nggak perlu diturunin pake tangga pemadam kebakaran XP)

Yah, mungkin dia ada di pintu depan, pikir ambu, dan mulai beres-beres seperti biasa, ngangetin makanan, nyiapin bekel, bikin susu, dll.
Beres semua, anak-anak mau pergi, Daffa yang pertama, jam 5.45 biasanya, dia buka pintu depan dan teriak, “mBuuuuu, ini ada si Baka!”
Biasanya ga perlu teriak karena Baka udah nyelonong aja masuk, lari biasanya, karena untuk ke belakang, ke dapur, dia perlu melewati ruang tengah, sedang di ruang tengah itu biasanya udah ada Abah, dan Baka paling takut sama Abah XDD Jadi dia biasanya secepat mungkin melewati ruang tengah, menghindar dari Abah.

Hari itu, dia diem aja di kursi depan.

Mesti dipangku dulu sama Karin, anakku yang tengah, dibawa ke dapur. Ternyata dia nggak mau makan sama sekali! Dikasih pindang, nggak mau, dikasih susu, bahkan nggak diendus-endus. Coba dikasih merah telur, biasanya diabisin sampai bersih licin tempatnya, ini bahkan nggak diliat-liat acan.

Kenapa ya?

Sampai siang, nggak tau dia kenapa nggak mau makan. Merah telurnya dipaksain dikasih, dimakan juga sih, abis dicekokin. Tapi paling cuma berapa suap. Trus susu juga, cuma beberapa sendok.

Tapi dia masih aktif. Emang sih nggak lincah seperti biasa, tapi dia masuk naik turun, jalan-jalan, naik genteng dan berakhir di depan rumah, dan seterusnya. Jadi, walau rada khawatir, nggak ada kecurigaan apa-apa.
Besoknya, masih sama. Dan dia sama sekali nggak jauh-jauh dari rumah. Cuma kadang di ada di depan, kadang dia ada di belakang. Berarti dia masih bisa naik-naik pohon dan berkelana di genteng.

Jumatnya, semakin nggak mau makan. Udah sih itu dipaksa dicekokin susu, air gula, air biasa (khawatir dehidrasi). Yasudah, sehabis pertemuan orangtua-guru di sekolahnya Karin, ambu+Karin+Devina bawa Baka ke dokter hewan.

Diagnosanya sih panas, demam. Dikasih obat yang dimasukin via infus. Trus dikasih obat yang harus dimakan 2x sehari, biar udah sembuh dalam 3 hari juga obatnya harus tetep diabisin. Antibiotik.

Yaudah. Bawa pulang. Dimanja-manja, dia emang sukanya tidur deket kita, kecuali kalau lagi ada Abah XD

Sabtu suhu badannya turun, tapi dia tetep nggak mau makan. Minggu juga, sementara Minggu kami nganter Devina ke Jatinangor soalnya besoknya dia harus kuliah (tapi ternyata pulang lagi abis pengen menghadiri kondangan tetangga neneknya di Kopo, udah akrab sih XD) Minggu malem itu terakhir Devina ketemu Baka, ngasih obat dan dipeluk-peluk, karena terus ditinggal kondangan dan Baka-nya malah entah ke mana, jalan-jalan.

Senin pagi, biasanya dia ada di sekitar, walau dia udah berapa hari ini nggak mau makan. Tapi pagi itu dicari kemana-mana, nggak ada. Ambu sampai bolak-balik pintu depan-pintu belakang lebih dari 12 kali dalam waktu sejam, tapi nggak ketemu juga. Jadilah Devina pergi ke Jatinangor.

Begitu mobilnya membelok di perempatan, kedengaran suara mengeong-ngeong. Baka! Ternyata dia dari tetangga ujung jalan buntu (rumahku letaknya di jalan buntu) abis gath kali dia XP karena tetanggaku yang itu emang pelihara dan sayang kucing, jadi temennya Baka di situ banyak.

Biasanya dia dari situ lari-lari, kali ini dia udah lemes kali ya, udah berapa hari ini nggak mau makan, jadi jalan aja. Sampai disamperin sama ambu, dipangku dibawa pulang.

Dikasih makan, masih nggak mau. Dicekokin minum aja, air biasa, air gula, dan antibiotiknya. Abis itu, dia maunya dipangku terus! Trus tidur. Trus pengen turun dari pangkuan, bobo di karpet. Trus pengen bobo di kamarnya Devina, seolah dia nyari orangnya (lah, orangnya dari tadi nyari kamu, sekarang sih udah di Jatinangor...) Biasanya dia bobo di lantai, di kolong kursi belajar. Sekarang dia tiba-tiba pengen bobo di kasur!

Tidur beberapa lama, trus pindah ke kamar Daffa, di kolong tempat tidur seperti biasa.

Trus siangnya dia pergi lagi.

Nah ini yang bikin ambu rada nggak percaya dia udah pergi: kelihatannya dia sehat-sehat aja. Selain kenyataan bahwa dia nggak mau makan, dan kalau dipangku kerasa dia jadi ringan, nggak akan ketahuan kalau dia itu lagi sakit! Bulunya kan lebat, jadi pengurangan berat badan nggak gitu kelihatan kalau sama yang nggak mangku sih.

Siangnya pergi, trus nggak lama dia pulang lagi. Bobo lagi. Dicekokin air lagi. Trus dia keluar, duduk-duduk di rumput. Mulai ketahuan kalau dia meler. Trus ya dibersihin sama tisu, walau dia menolak dengan keras.

Makin sore, dan dia masih berkelana di kebun, ternyata melernya bercampur darah. Persis Daffa kalau lagi flu sekaligus mimisan, jadi dari hidung itu penuh ingus bercampur darah. Napasnya juga jadi lewat mulut. Nah lho!

Ya udah, selain itu ambu kan SMS-an sama Devina, ambu bilang besok mau dibawa lagi ah ke dokter. Lagipula, saat itu Abah pulang, dan minta makan malamnya sore-sore aja. Jadi ambu nyiapin nih. Sempet ngeliat kalau Baka berkelana di kebun, bobo di bawah pandan.

Selesai magrib, tadinya Baka mau ditangkep, mau dicekokik obat, ternyata dia dateng sendiri, jalan dari  bawah pandan, naik ke bale-bale, naek ke pangkuan. Ya udah ambu siapin, obatnya, tisu, waslap dibasahin, air. Pelan-pelan dibersihin idungnya walau dia menolak, trus dikasih obat. Dan napasnya makin keras, lewat mulut bukan lewat hidung.

Udah bersih, udah dikasih obat, udah dikasih air, dia maunya bobo di pangkuan. Karena Abah udah makan malem tadi, jadi ambu rada tenang, mangku dia sampai sekira setengah jam. Kelihatan udah nyenyak bobo, dan ambu mulai pegel, ambu pindahin dia ke keranjang (tadi sempet dipindahin ke keranjang dan dia balik lagi ke atas pangkuan XD) dan dia bobo.

Ambu masuk, dan Abah minta dibikinin jus. Ya ambu keluar lagi, ke dapur, sekalian mang Ujang—yang suka kerja di rumah—ambu suruh makan. Pas dia keluar, ternyata Baka juga keluar dari keranjang, jalan pelan-pelan ke rumput, deket lantai.
Ternyata—huweeee!
Jadi melernya sekarang udah bukan ingus campur darah lagi, tapi darah beneran. Cuma sekali-duakali, trus dia batuk-batuk, dan dia pergi, huweeee!

Nggak percayanya itu karena dia kelihatan masih seger, masih naik-naik, masih jalan-jalan ke sana ke mari. Nggak seperti Mimineyon, nggak seperti Dede Kuro, nggak seperti kucing-kucing lain, yang kalau udah sakit itu kelihatan payah, tidur melulu; kalau ini sih enggak! Tanda-tanda dia sakit itu cuma bahwa dia nggak mau makan, dari Rabu (28/08-2013) sampai dia pergi Senin (02/09-2013) itu berapa hari coba. Semua kucing di rumah ini yang nggak mau makan, pasti berakhir dengan ‘pergi’, huhuhu...

Makanya baru sempet nulis ini juga, sekarang udah tanggal 10, tapi masih berharap dia muncul dan mengeong minta makan, atau pengen digaruk-garuk (kucing paling manja itu ya dia!). Nggak bisa move on.

Sampai ada ‘teori Baka’: jika kau duduk di kursi dapur, maka Baka akan mendekatimu, naik ke pangkuanmu, melingkar, dan minta digaruk-garuk. Jika kau turunkan dia, maka dia akan segera naik lagi ke pangkuanmu, hihi.

Makanya kalau ambu lagi di dapur dan lagi sibuk goreng-goreng, biasanya ambu minta Devina (saat lagi libur) atau Karin untuk nemenin di dapur, bukan untuk bantuin, tapi untuk mangku Baka dan garuk-garuk belakang telinganya XD

Yah, mungkin dia sekarang lagi sibuk main sama Dede Kuro dan Mimineyon di sono. Baik-baik di sana ya!